Minggu, 11 September 2016

BAITUZZAKAH PERTAMINA, BEASISWA BAZMA 2016, SCHOLARSHIP BAITUZZAKAH PERTAMINA


Aku Bagi Keluargaku
Oleh : Siti Sarah

Namaku Siti Sarah. Aku lahir di sebuah perkampungan kecil yang tak banyak diketahui orang pada tanggal 4 November tahun 1996 tepat di hari senin. Aku memiliki Ayah dan Ibu yang amat mencintaiku sepenuh hati, terlebih dengan kehadiran seorang adik yang selalu mengerti diriku. Ya, kami sudah seperti anak kembar, satu terluka yang satunya pun merasa terluka, satu bahagia yang satunya pun ikut bahagia. Aku dibesarkan di daerah terpencil di Kota Bekasi. Tak banyak yang mengetahui daerah tempat tinggalku.

Aku memulai pendidikanku sejak usia 5 tahun. Aku memulainya dengan duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Kata orang, aku anak yang cerdas. Aku sudah bisa membaca, menulis dan berhitung ketika aku masih duduk di bangku TK.

Setelah menyelesaikan TK, aku dimasukkan ke sebuah sekolah tingkat SD bernama Madrasah Ibtidaiyah Attaqwa 20 yang tidak jauh dari rumahku. Saat itu usiaku 6 tahun. Aku banyak menorehkan prestasi ketika itu. Aku pernah mendapat juara kelas dan banyak menjuarai perlombaan tingkat sekolah. Ayah dan Ibuku amat bangga denganku. Senyuman kegembiraan selalu mereka pancarkan ketika aku menorehkan prestasi-prestasi itu. Perasaan bahagia pun selalu menyertai diriku ketika aku melihat kegembiraan mereka.

Waktu terus berjalan. Aku pun memasuki dunia SMP. Aku bersekolah di sekolah yang aku idam-idamkan sejak lama, sekolah favorit pada masa itu. Tak berhenti disitu, aku juga terus menorehkan sejumlah prestasi dengan banyak mengikuti ajang perlombaan akademik maupun non-akademik dan menjadi juara kelas. Ayah dan Ibu sangatlah bangga dengan hal itu. Sampai pada akhirnya aku mengerti satu hal yang baru aku ketahui saat aku duduk di bangku SMA.

Kedua orangtuaku, Ayah dan Ibu, mereka punya cita-cita besar yang tidak dapat mereka wujudkan. Mereka terlahir dari keluarga besar dengan ekonomi rendah. Namun, semangat mereka amatlah tinggi dengan cita-cita yang begitu mulia. Mereka hanya ingin bersekolah agar kelak keluarga mereka tidak lagi dipandang sebelah mata. Namun, takdir berkata lain, kedua orangtua mereka menentang mereka untuk meneruskan sekolah. Hingga akhirnya cita-cita dan harapan mereka terkubur dan berhenti di bangku SMP.

Air mataku menetes mendengar cerita tersebut. Entah mengapa hatiku terenyuh. Aku seperti seperti melihat mimpi yang begitu besar ada pada pada diri mereka hingga saat ini, namun mereka tak mampu menggapainya. Sampai pada akhirnya mereka mengungkapkan bahwa cita-cita dan mimpi itu belum terkubur. Mimpi itu kembali hadir dan menjadi penyemangat mereka dalam hidup. Mimpi itu adalah aku. Mimpi itu ada pada diriku. Seorang gadis 19 tahun yang juga punya sejuta mimpi.

Aku adalah mimpi mereka. mereka punya cita-cita dan mimpi yang ada pada diriku. Asa itu kembali ketika aku dilahirkan ke dunia. Sebuah semangat masa depan kembali membara saat tangisan pertamaku terdengar di telinga mereka.

Di mata keluargaku, aku adalah harapan mereka. Meskipun mereka tidak dapat menggapai cita-cita dan mimpinya, namun mereka berjanji bahwa kelak aku yang akan menggapai itu untuk mereka. Mereka tidak ingin aku seperti mereka yang hidup bergantung pada pihak swasta dan dibawah kendali mereka. Mereka tidak ingin aku hidup menderita, mendapat cemooh orang lain dan tak dihargai. Mereka ingin aku menjadi orang yang dihargai dan berguna bagi banyak orang. Mereka selalu berpesan “ Cukup kami yang merasakan kepedihan hidup menjadi orang yang tidak merasakan nikmatnya bangku pendidikan tinggi, anak-anakku tidak boleh sedikitpun merasakan hal itu. Kami orangtua yang tak punya banyak harta, taka da harta yang bisa kami berikan, hanya ilmu, ilmu dan ilmu yang dapat kami berikan sebagai bekal untuk kalian agar kelak ilmu yang akan menjadikan kalian orang-orang yang bijaksana dan dihargai. “
Berbekal semua itu, aku bertekad meraih semua itu untuk mereka. Usaha dan kerja kerasku selalu kupersembahkan untuk mereka. Mereka mentari dalam jiwaku, yang selalu menjadi sinar ketika aku merasa gelap karena lelah dengan kerja kerasku.

Aku di mata keluargaku, bak pahlawan yang mereka harapkan dan mereka banggakan. Inilah aku – gadis 19 tahun dengan sejuta mimpi yang tak pernah putus asa meski banyak rintangan dalam hidupku – bagi Keluargaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar