Guru. Saya seorang guru. Saya masih sangat ingat, dulu ketika saya memutuskan untuk menggapai masa depan dengan menjadi seorang guru, banyak komentar-komentar yang terdengar tidak enak di hati, "buat apa jadi guru, cuma capek berkoar-koar", " mau jadi guru? Pikir pikir lagi deh", "guru? Yakin? Gajinya kecil banget loh", " jadi guru? Emang gak ada yang lain?", dan lain lain.
Kalian tahu bagaimana respon saya saat itu? Tersenyum ya, tersenyum. Mungkin senyuman itu yang bisa menggambarkan betapa bahagianya saya menyambut masa depan sebagai seorang guru. Tapi di sisi lain hati ini rasanya teriris. Bukan karena kecewa dengan kata kata itu. Bukan karena saya malu. Tapi, tapi karena betapa menyedihkannya pandangan banyak orang terhadap sosok guru. Padahal mereka tahu, betapa sosok guru begitu mulia.
Mereka adalah orang orang yang rela dengan tulus dan ikhlas mendidik anak-anak yang sebelumnya tidak mereka kenal. Mereka adalah orang orang yang selalu tulus dan ikhlas meratap kepada Tuhan demi mendoakan murid-muridnya yang tidak ada hubungan darah dengannya. Mereka adalah orang-orang yang setiap saat bisa gelisah memikirkan murid-muridnya, yang sekali lagi mungkin tidak mereka kenal sebelumnya.
Lalu mengapa profesi mereka dianggap rendah? Tidakkah betapa banyaknya mereka yang menjadi dokter, perawat, agamawan, politikus, ilmuan bahkan pemimpin negara adalah bukti nyata jasa besar mereka?
Wahai guru, hanya ikhlas dan ridha yang kau punya agar mereka, para muridmu menjadi orang yang besar di kemudian hari. Besar ilmu dan hatinya.
Saya seorang guru. Dan saya bangga dengan itu.
Selamat hari guru untuk seluruh pahlawan terbaik di negeri ini.